Rabu, 03 Oktober 2018

Beginikah?

Adakah yang lebih menarik dari penghianatan yang terus berulang? 
Adakah yang lebih memuakkan saat melepas tak mau, tapi menginginkan yang lain pula?
Adakah yang bisa ku maki selain wajah mengenaskan yang kini tertunduk? 

Ada banyak opsi untuk meninggalkanmu

Ada banyak alasan yang membuatku malu berpaling menatapmu. 

Kau genggam aku dengan tangan kananmu

Meremasnya hingga tak berbentuk
Tapi disisi lain, kaupun genggam dia yang lain
Miris, seperti itukah caramu menjalankan janji busukmu? 
Beginikah yang aku dapat setelah sekian lama? 

Ada banyak hati yang kau remas

Termasuk pula ibuku.. 
Kau anggap apa dia yang melahirkanku? 
Kau anggap apa lelaki paruh baya yang mulai mempercayakan melepas tanggungannya? 
Tidakkah ada sekelumit sesal yang kau rasakan? 
Tidakkah ada sedikit malu saat kau menggores hati putri mereka? 
Lalu dimana omong besarmu itu? 
Lupakah kau terhadap apa yang kau ucap? 
Lupakah kau tentang amanat yang kau tanggung? 
Nyata nyatanya omong besarmu hanya sekedar angin lalu.
Tak pernah ada wujudnya.
Memberi kesegaranpun rasanya pengap ku rasa.

Minggu, 30 September 2018

Resensi buku bumi manusia

BUMI MANUSIA



Judul              : bumi manusia
Pengarang    : pramoedya ananta toer
Penerbit        : lentera dipantara
Tebal buku   : 353 halaman

Buku bumi manusia merupakan karya sastrawan pramoedya ananta toer. Buku ini merupakan seri pertama dari tetralogy novel buru. Buku ini di tulis ketika pramoedya menjalani masa tahanannya. Meskipun begitu, penahanannya tidak menyurutkannya untuk terus menulis.

Dengan latar akhir abad ke 18, pramoedya sukses menyajikan bagaimana kehidupan di tahun tersebut dengan detail. Konflik-konflik yang ada di cerita ini sangat beragam. Mulai dari budaya, perbedaan kasta dan asal, hingga ketidak adilan yang dialami mereka sebagai pribumi. Buku ini menggambarkan kehidupan pribumi pada masa pemerintahan hindia belanda. Buku yang sangat menarik untuk dibaca tentunya.

Buku ini berlatarkan di surabaya, mengisahkan tentang seorang anak pribumi yang di dalam darahnya mengalir darah bangsawan jawa. Dia memiliki kesempatan lebih dari pada pribumi lainnya untuk bisa melanjutkan pendidikannya lebih tinggi. Dia adalah minke, pemuda berdarah jawa yang memiliki pemikiran-pemikiran luar biasa. Dia si pemuda pribumi yang memiliki pola pikir seperti orang eropa karna pendidikan yang di-enyamnya.
Dia pemuda yang cerdas dan seorang pengagum sastra. Karya tulisnya sudah banyak memenuhi laman pada Koran-koran.
Di buku ini, di kisahkan minke jatuh cinta pada seorang gadis keturunan indo-belanda. Dia annelis mellema, gadis berparas cantik yang mengalahkan kecantikan ratu Wilhelmina. Begitupun minke, annelispun merasakan hal yang sama pada minke pada pertemuan pertama mereka. Singkat kata, annelis tidak bisa jauh dari minke hingga diapun jatuh sakit saat minke harus kembali ke sekolahnya. Hingga akhirnya minke menerima tawaran dari nyai ontosoroh (ibu annelis) untuk tinggal bersama di tempat nyai ontosoroh. Nyai ontosoroh bukan hanya sekedar nyai (gundik), dia merupakan contoh wanita pribumi yang tangguh. Dia seorang pribumi, tapi dia terpelajar seperti orang eropa. Dia mampu menjalankan perusahaan besar selepas kepergian suaminya yang jarang kembali. Banyak dendam dan sakit hati yang diterima nyai ontosoroh. Dia merupakan salah satu korban bagaimana nasib seorang pribumi yang tidak bisa berbuat apa-apa ditangan orang berkulit putih. Dan nasib itulah yang menjadikannya wanita pribumi tangguh sekaligus gundik yang berbeda dari pada gundik yang lainnya.

Singkat cerita, semua konflikpun mulai bermunculan setelah kedekatan minke dan annelis. Bagaimana seorang Robert suurrof yang mulanya sahabat minke di sekolah berubah haluan menjadi musuh saat cintanya pada annelis tidak berbalas. Hingga akhirnya pernikahan minke dan annelis-pun di gelar setelah kelulusan minke. Namun, Kebahagiaan itu tak berlangsung lama karna beberapa bulan setelahnya, datang surat dari pengadilan yang menyebabkan jiwa annelis kembali tergoncang. Surat yang didalamnya berisikan bahwa pernikahan dia dan minke tidaklah sah. Surat yang nantinya akan memisahkan dia dengan orang tersayangnya. Berpisah dengan ibunya, suaminya, dan tentu tanah kelahirannya.

Membaca buku ini memerlukan konsentrasi dan pemahaman kata yang baik. Karna penggunaan kata dan bahasa yang beragam , cukup mampu untuk membuat pembaca berhenti membaca untuk memahami kata demi kata yang ada di buku tersebut. Meskipun begitu, tak membuat surut para pembaca untuk terus membaca karna penggambaran yang begitu jelas dan konflik yang di tawarkan pada buku ini sangatlah menarik pada era ini.





Kamis, 27 September 2018

Tenang dalam lelap


Bunyi bunyian itu bersahutan
Menciptakan sedikit gaduh saat matahari belum mau muncul
Aku Menghitung detik menunggu
Tapi lama detik terlewat, si bunyi tak lantas berhenti
Kantuk yang berat masih aku pertahankan
Baru beberapa menit yang lalu rasanya tidur menyapa
Aku masih butuh detik lebih untuk memejamkan mata
Mengistirahatkan tubuh yang sudah remuk

Kembali memaksa otak beristirahat, 
Aku menangkap bunyi itu seperti lantunan musik
Jenis musik yang memekakkan telinga
Huffft... 
Binasa sudah harapan lelap lebih lama

Senin, 24 September 2018

Mengais sisa kewarasan

Katakanlah aku sebuah ketidakpastian
Katakanlah aku hanya sebuah angan yang merindukan muaranya
Katakanlah aku pencari yang tak berujung
Mengharapkan bentuk nyata dari kebenaran
Menanti jawaban dari tiap potongan Tanya yang melintas

Semakin jauh mengorek
Justru belukar yang menghalangi langkah
Ini terlalu beresiko untuk di tembus di tengah gersangnya akan pemahaman
Mau kemana harus mencari jalan?
Melangkah justru semakin jauh terperosok
Berdiam seolah pasrah akan keadaan

Pilihan apa yang ditawarkan sang pertiwi
Untuk makhluk yang tak pernah puas ini
Apa yang ditawarkan malam untuk menerangi
Jalan yang mulai mengabur kala malam menyapa
Apa yang kudapat dari jejak di tanah yang mulai Menunjukkan keengganannya
Apa yang dapat di bisikkan angin kala ku butuh penunjuk arah
Akankah tetap seperti ini ? dibiarkan menanggung Tanya tanpa sebuah jawab