
Judul : bumi manusia
Pengarang : pramoedya ananta toer
Penerbit : lentera dipantara
Tebal buku : 353 halaman
Buku bumi manusia merupakan karya sastrawan pramoedya ananta toer. Buku ini merupakan seri pertama dari tetralogy novel buru. Buku ini di tulis ketika pramoedya menjalani masa tahanannya. Meskipun begitu, penahanannya tidak menyurutkannya untuk terus menulis.
Dengan latar akhir abad ke 18, pramoedya sukses menyajikan bagaimana kehidupan di tahun tersebut dengan detail. Konflik-konflik yang ada di cerita ini sangat beragam. Mulai dari budaya, perbedaan kasta dan asal, hingga ketidak adilan yang dialami mereka sebagai pribumi. Buku ini menggambarkan kehidupan pribumi pada masa pemerintahan hindia belanda. Buku yang sangat menarik untuk dibaca tentunya.
Buku ini berlatarkan di surabaya, mengisahkan tentang seorang anak pribumi yang di dalam darahnya mengalir darah bangsawan jawa. Dia memiliki kesempatan lebih dari pada pribumi lainnya untuk bisa melanjutkan pendidikannya lebih tinggi. Dia adalah minke, pemuda berdarah jawa yang memiliki pemikiran-pemikiran luar biasa. Dia si pemuda pribumi yang memiliki pola pikir seperti orang eropa karna pendidikan yang di-enyamnya.
Dia pemuda yang cerdas dan seorang pengagum sastra. Karya tulisnya sudah banyak memenuhi laman pada Koran-koran.
Di buku ini, di kisahkan minke jatuh cinta pada seorang gadis keturunan indo-belanda. Dia annelis mellema, gadis berparas cantik yang mengalahkan kecantikan ratu Wilhelmina. Begitupun minke, annelispun merasakan hal yang sama pada minke pada pertemuan pertama mereka. Singkat kata, annelis tidak bisa jauh dari minke hingga diapun jatuh sakit saat minke harus kembali ke sekolahnya. Hingga akhirnya minke menerima tawaran dari nyai ontosoroh (ibu annelis) untuk tinggal bersama di tempat nyai ontosoroh. Nyai ontosoroh bukan hanya sekedar nyai (gundik), dia merupakan contoh wanita pribumi yang tangguh. Dia seorang pribumi, tapi dia terpelajar seperti orang eropa. Dia mampu menjalankan perusahaan besar selepas kepergian suaminya yang jarang kembali. Banyak dendam dan sakit hati yang diterima nyai ontosoroh. Dia merupakan salah satu korban bagaimana nasib seorang pribumi yang tidak bisa berbuat apa-apa ditangan orang berkulit putih. Dan nasib itulah yang menjadikannya wanita pribumi tangguh sekaligus gundik yang berbeda dari pada gundik yang lainnya.
Singkat cerita, semua konflikpun mulai bermunculan setelah kedekatan minke dan annelis. Bagaimana seorang Robert suurrof yang mulanya sahabat minke di sekolah berubah haluan menjadi musuh saat cintanya pada annelis tidak berbalas. Hingga akhirnya pernikahan minke dan annelis-pun di gelar setelah kelulusan minke. Namun, Kebahagiaan itu tak berlangsung lama karna beberapa bulan setelahnya, datang surat dari pengadilan yang menyebabkan jiwa annelis kembali tergoncang. Surat yang didalamnya berisikan bahwa pernikahan dia dan minke tidaklah sah. Surat yang nantinya akan memisahkan dia dengan orang tersayangnya. Berpisah dengan ibunya, suaminya, dan tentu tanah kelahirannya.
Membaca buku ini memerlukan konsentrasi dan pemahaman kata yang baik. Karna penggunaan kata dan bahasa yang beragam , cukup mampu untuk membuat pembaca berhenti membaca untuk memahami kata demi kata yang ada di buku tersebut. Meskipun begitu, tak membuat surut para pembaca untuk terus membaca karna penggambaran yang begitu jelas dan konflik yang di tawarkan pada buku ini sangatlah menarik pada era ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar